Jumat, 03 April 2015

Cerpen Pilihan 3

Happy BornDay
Karya : Joshua
Kelas : X IPS
Matahari menyapu tiap sudut kamar Febby. Memberikan kiasan cahaya yang menyilaukan. Lelaki ini membuka kedua matanya, menyadari esok hari telah tiba. Dengan semangat, ia beranjak turun dari ranjangnya, mengambil laptop dan membuka Facebook.
“Happy… Birthday… I wish U all the best,” lelaki ini tampak mengetik sesuatu di dinding salah satu teman Facebook-nya. Selesai mengetik, ia tersenyum puas, kemudian mematikan laptop dan mengembalikannya.
Febby mengambil handuk, kemudian memutuskan untuk mandi pagi.
Selesai mandi, Febby memilih seragam sekolah yang hendak ia kenakan. Jum’at, pramuka, batin Febby. Ia mengambil satu stel pakaian pramuka lengkap dengan ikat pinggang, kemudian mengenakannya.
Febby mengambil sebuah kerudung segi empat berwarna cokelat, kemudian mengenakannya. Ia becermin selama 10 menit, memantaskan diri.
“Hari ini istimewa,” gumam Febby. Tak henti-hentinya ia bersenandung kecil.
Ai mengenakan kaus kaki dan sepatu hitamnya, kemudian mengeluarkan sepeda motor kebangganya dari garasi dan mengendarainya.
Kurang lebih 30 menit, Febby sampai di sekolah.
“Pagi, Risa.” Sapa Febby pada teman sekelasnya, Clarissa.
“Pagi, Febby. Hari yang cerah, bukan?” Tanya Clarissa.
“Iya, bagaimana kau bisa tahu?” Jawab sekaligus tanya Febby.
“Hal itu tercermin dari wajahmu. Benar, kau seperti sedang berbunga-bunga” ucap Clarissa. Gadis ini menyunggingkan senyum manis.
“Iya… Tentu saja, hari ini kan…” Belum selesai Febby berucap, Anastasya datang dan memotong ucapannya.
“Dia ulang tahun!” Seru Anas.
“Iya, betul, itu, Nas…” Timpal Clarissa.
“Oh, ya… Bagaimana tentang hadiah itu? Jadi kau berikan?” Tanya Anastasya.
“Aku belum tahu. Mudah-mudahan jadi,” Febby tersenyum, kemudian meletakkan tasnya di kelas.
“Febby, seandainya jadi, bolehkah aku mengabadikannya dengan kamera?” Izin Anas.
“Tidak, aku tidak akan memberikannya secara langsung.” Jawab Febby.
“Melalui perantara?” Tebak Clarissa. Febby mengangguk.
“Tidak langsung? Mengapa?” Tanya Anas dengan wajah bingung.
“Resikonya sangat berat. Seperti… Ejekan, misalnya.” Jawab Febby.
“Tapi, kan, akan lebih berkesan jika kamu yang memberikan,” ucap Anas.
“Ya… Ya… Aku tahu. Sudahlah, jangan dibahas.” Febby mencoba tidak membahas hal itu.
Selama jam pelajaran berlangsung, Febby terus memikirkan soal hadiah itu. Apakah akan ia berikan, atau ia simpan? Tapi sia-sia saja ia membeli jika akhirnya tidak diberikan.
“Aku ingin memberikannya langsung. Tapi…” Gumam Febby. “Sudahlah, cuek saja. Masa bodoh dengan ejekan, yang penting berkesan,”
Akhirnya waktu pulang sekolah tiba. Siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas mereka. Febby, ia berjalan menuju kelas X-IPS. Panggilan Clarissa dan Anastasya tak ia hiraukan.
“Permisi… Santi ada?” Tanya Febby di depan pintu kelas X-IPS.
“Ada.” Jawab orang yang Febby beri pertanyaan. “Masuk saja, dia sedang bermain laptop,”
“Laptop, seperti biasa,” gumam Febby. “Terima kasih,”
Febby memberanikan diri masuk ke dalam kelas X-IPS. Orang yang dicarinya ada di sana. Santi, ia sedang serius dengan laptopnya. Kehadiran Febby seperti tak disadarinya.
“Santi…” Panggil Febby.
“Ya?” Jawab Santi. Tatapan matanya masih tertuju pada laptop.
“Hhhhhhhhhhmmmmmmmmmmmmm…” Febby bingung harus berkata apa.
“Ada apa, Febby?” Santi menutup laptopnya, kemudian menatap Febby.
“Hm… Ini, happy bornday.” Febby menyerahkan hadiah yang ia simpan selama berbulan-bulan. Hanya untuk Santi.
“Untukku?” Tanya Santi. Febby mengangguk.
“Semoga kamu suka. Dah…” Pamit Febby.
Santi memandang kepergian Febby dengan wajah bingung. Ia membuka hadiah pemberian Febby. Sebuah boneka panda yang imut.
“Febby, tunggu!” Santi keluar kelas kemudian mengejar Febby.
“Ada apa?” Tanya Febby.
“Terima kasih banyak,” ucap Santi.
“Ya… Sama-sama…” Febby tersenyum. “Sudah dulu, ya… Dah…”
Febby berjalan bersama kedua sahabatnya, Clarissa dan Anastasya. Sementara itu Santi masih tetap di tempatnya berdiri, tak bergeming.
Perlahan senyum tersungging di bibirnya.
“Tunggu hadiah balasanku, Febby.” Ucapnya kemudian. Santi kembali ke kelas, kemudian ia memutuskan untuk pulang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar